Tips membangun perpustakaan rumah

April 30, 2009

Teman menulis adalah membaca. Membaca buku apa saja, tidak harus buku-buku tertentu. Nah, agar dahaga membaca dapat terobati secara maksimal, ada baiknya Ayah dan Ibu merencanakan membuat perpustakaan rumah. Berikut ini adalah tips singkat membangun perpustakaan rumah Pertama : Persiapkan fasilitas pendukung. Yang termasuk disini adalah tempat/ruangan khusus. Tidak perlu lebar atau besar sekali. Sebagai langkah awal, gunakan rak atau meja yang ditaruh di ruang keluarga atau ruang belajar. Atau jika tidak ada tempat, di ruang tamu juga tidak masalah. Jika ada rizki lumayan, Anda bisa membangun ruangan khusus untuk ini. Misalnya lebar 3 x3 meter persegi. Ini benar-benar ruangan khusus untuk menyimpan buku, membaca buku. Taruh juga komputer disini. Jadikan benar-benar sebagai ruangan belajar bersama untuk keluarga. Kedua : Koleksi buku Darimana saya mendapatkan buku? banyak jalan. Dari teman mungkin, atau membeli dengan uang sendiri. Buku-buku mahal? Anda bisa mengatur anggaran. Cobalah sisihkan 5% dari total anggaran Anda untuk pos ini setiap bulannya. Setahu saya buku-buku bertema agama dan keluarga cenderung turun setiap tahunnya. Membeli buku-buku bekas juga tidak masalah. Ini bukan pilihan yang buruk. Ketiga : Buku yang bermanfaat. Tentu saja. Perpustakaan rumah hendaknya diisi oleh buku-buku yang isinya bermanfaat, menebalkan rasa iman atau menambah wawasan dan pengetahuan. Keempat : Klasifikasikan Buku-buku tersebut dapat diklasifikasikan, mana buku bertema agama, tema keluarga, buku umum, buku pelajaran dan buku untuk anak. Jika kita hanya punya satu rak panjang, tidak jadi soal. Segregasi tiap jenis buku dengan kertas sebagai dinding pemisah. Kelima : Untuk semua anggota keluarga Semua anggota kelaurga, baik Ayah, Ibu, Anak, Nenek-kakek (jika ada), berhak menikmati perpustakaan rumah. Jadi, sebisa mungkin pilihlah tempat yang memungkinkan semua anggota keluarga memiliki akses ke tempat tersebut. Lebih bagus, jika kemudian menjadi ajang berkumpul dan bercengkrama dengan seluruh anggota keluarga. Ciptakan suasana keriangan dan keceriaan. Jika koleksi buku makin bertambah, siapa tahu kelak perpustakaan rumah ini bisa bermanfaat juga bagi tetangga, sanak keluarga yang sedang berkunjung. Wassalam Nurhadi

Golagong, membangun rumah dunia dengan kata-kata

January 10, 2009

Gola Gong; Menumbuhkan Minat Baca Dengan Mendirikan Rumah Dunia.

Suatu sore di Rumah Dunia, empat anak berkunjung. Saya belum pernah melihat mereka, yang sangat antusias melihat buku-buku berjejer di rak.  Saya ajak mereka berkumpul sambil mengenalkan diri. Saya meminta mereka mengenalkan diri juga. Ini bagian dari 4 ketrampilan berbahasa; berbicara dan mendengar. Dengan malu-malu, mereka mengenalkan diri. Namanya Anwar (4 th), Lia (9 th), Imel (9 th), dan Tuti (5 th).   Begitulah saya mengawali perkenalan dunia literasi kepada anak-anak, pengunjung Rumah Dunia.

 INTERAKTIF

Di “Ode Kampung 3: Temu Komunitas Literasi se-Nusantara” (5 – 7 Des) akan disesaki diskusi tentang literasi. Di hari pertama, Jum’at (5/12), ada diskusi mengusung ”Membudayakan Minat Baca Masyarakat”. Pembicaranya Prof.DR. Yoyo Mulyana (cendekiawan), DR. Zulkieflimansyah (anggota DPR), dan Myra Junor (GM Corporate Communication XL). Ini sangat menarik, karena minat baca (reading interest) sedang tumbuh di warga Banten Di Rumah Dunia, anak-anak masa depan itu sejak dini harus kita “jebak”, agar senang membaca. Empat ketrampilan berbahasa (mendengar, berbicara, menulis, membaca) adalah senjata ampuh.

Peristiwa di sore hari itu belum selesai. Saya memperlihatkan cover buku yang berjudul ”Jika Aku Sedih”. Ada wajah seorang anak sedang bersedih. Saya menirukan mimiknya. Saya memberi kesempatan kepada mereka melakukan hal sama. Anwar dan Tuti (14) tahun tidak mau. Tapi Lia dan Imel  mau – walaupun malu-malu. Kemudian saya bertanya, apakah mereka tahu ”sedih” dan ”gembira”. Saya memisalkan, kalau Bapak memberi hadiah mobil-mobilan, hati saya sangat senang.  Ketika saya tanya, pernah tidak mereka merasakan kebahagiaan? Lia menjawab, ”Pernah, saat diajak berspeda oleh Imel.” Kapan pernah bersedih, Imel menjawab lugas, ”Pernah, saat adik saya masuk rumah sakit, karena demam berdarah.” Saya sangat gembira, karena bisa menjelaskan apa ”sedih” dan gembira”. Mereka sangat larut dan menikmati suasana mendongeng interaktif ini. Mereka bisa memaknai, bahwa ”sedih” dan ”gembira” adalah bagian dari kehidupan. Jika teman kita serdih, maka kita harus menghiburnya.  BERJENJANGPeristiwa di atas adalah proses awal menuju pentingnya membaca sebagai kebiasaan atau kebutuhan kita (reading habit). Harus berjenjang. Hanya saja, kita menjadi orang-orang yang tidak sabar. Melihat balita anak tetangga kursus balet, kita panik dan ikut-ikutan. Mendengar anak kolega kursus membaca, balita kita yang mestinya full bermain, dijebloskan ke kursus membaca atau ke TK yang memiliki kurikulum calistung. Pokoknya, semakin cepat anak bisa membaca, semakin bahagia kita. Percayalah, semua harus melewati proses. Di Rumah Dunia, saya sangat hati-hati mengajak anak-anak kampung Ciloang dan sekitar untuk datang. Saya tahu, buku adalah barang mewah bagi mereka. Keseharian mereka sepulang sekolah menggembala kambing, mandi di sungai irigasi, jadi pengamen jalanan, atau pemulung. Sedangkan pemerintah dan akademisi selalu menyerukan, membaca harus menjadi kebiasaan, kebutuhan, atau bagian dari hidup (reading habit). Saya dan keluarga sudah dalam fase ini, karena orang tua saya melakukannya. Sejak kecil, kami dimanjakan dengan buku. Bahkan ada perpustakaan pribadi. Sementara di lingungan saya tinggal sekarang, Kampung Ciloang, mereka baru memasuki fase tertarik membaca (reading interest), karena mereka tidak mampu membeli buku.

Ini modal awal yang bagus. Saya dan istri memeliharanya. Ini juga berlaku kepada anak-anak kami. Buku-buku saya gelar di setiap sudut rumah untuk menyaingi TV dan play station. Saya dan istri secara demonstartif membaca, sehingga mereka tertarik meniru. Begitu juga di Rumah Dunia. Kami membiarkan buku-buku kami dirusak agar “reading interest” ini bersemi menjadi tunas, menuju “reading habit”. Sekali saja kami memarahi hanya gara-gara merobek buku, misalnya, maka “reading interest” itu akan hancur.

Jadi, dari fase ketertarikan (reading interest) tadi ke kebiasaan (reading habit), saya memakai konsep 4 ketrampilan berbahasa. Ini adalah rangsangan (stimulans) baik bagi otak mereka, agar ketertarikan terus terpelihara dan bersemi menjadi kebiasaan.   Dengan stimulans itu, setelah Rumah Dunia menggelinding 6 tahun (sejak 3 Maret 2002), anak-anak yang berkunjung kini berada pada fase membaca sebagai kebutuhan atau kebiasan (reading habit). Bahkan dengan stimulans lain berupa pertunjukkan teater, pembacaan puisi, diskusi, bedah buku, musikalisasi puisi, pameran lukisan, yang rutin diadakan setiap Sabtu, menggiring anak-anak yang rajin ke rumah Dunia memasuki fase berikutnya, yaitu budaya membaca.  Jadi, reading interest, reading habit, harus terus dipelihara sehingga menjadi bagian dari budaya. Kontinuitas atau proses berkelanjutan dalam bentuk kegiatan (stimulant).